Kamis, 25 Juni 2009

LETUSAN GUNUNG MERAPI TAHUN 1006 : KERAJAAN MATARAM KUNO PINDAH KE JAWA TIMUR ?

Hubungan letusan Gunung Merapi, Jawa Tengah tahun 1006 dengan perpindahan Kerajaan Mataram Kuno (Hindu) ke Jawa Timur menjadi perdebatan yang menarik segera setelah bencana "Wedhus Gembel Merapi" tahun 1994 lalu. Bahkan hingga sekarang di kalangan sejarawan perdebatan itu masih berlangsung.
Seperti yang dikemukakan oleh Djoko Dwiyanto (Darimana Asal Angka Tahun 1006 Diperoleh ? 13 Desemeber, 1994) menyangsikan angka 1006 sebagai momen runtuhnya Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah sehingga kemudian pindah ke Jawa Timur. Sementara itu pendapat kedua, Sari Bahagiarti (1994 a dan b) dengan mensitir Van Bemmelen (1949) dan Zen (1971 dan 1972) menyatakan bahwa tahun 1006 Gunung Merapi meletus hebat dan menghancurkan sebagian tubuh Gunung Merapi yang melongsor ke barat daya membentuk perbukitan Gendol di sebelah selatan kota Muntilan, Magelang. Akibat letusan besar itu Kerajaan Mataram kuno (Hindu) pindah ke Jawa Timur.
Data kepurbakalaan berdarkan prasasti yang dijumpai di candi-candi pada masa kejayaan kerajaan Hindu dan Budha di Jawa Tengah, peling tidak mulai dari 732 M sampai dengan 928 M (Miksie, 1990). Dinasti Sanjaya-Hindu memegang tampuk kerajaan sampai tahun 180. Kerajaan kemudian diambil oleh Dinasti Syailendra-Budha hingga 928 (929 M ?). Di dalam prasasti itu tidak ada keterangan terjadinya letusan Gunung Merapi pada 928-929 M atau 1006 M. Informasi perpindahan kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur ini sesuai dengan pendapat Djoko Dwiyanto (1994) yang mengacu kepada prasasti Sanguran 850 Saka.
Menurut Newhall dkk (1995) angka 1006 didapat dari batu prasasti tahun 1041 yang disebut "Calcuta Stone". Batu prasasti ini diketemukan di Jawa Timur dan berisi cerita tentang kehidupan Raja Erlangga. Di dalam prasasti itu terdapat kata "maha pralaya" atau "prahara" dan "ekarnawa" pada tahun 928 Saka atau 1006 M. Prasasti ini mungkin ada hubungannya dengan Prasasti Sangguran tahun 850 Saka danPrasasti Turyyan tahun 851 Saka (Djoko Dwiyanto, 1994).
Kata-kata "mahapralaya" atau "prahara" diterjemahkan sebagai keadaan yang balau atau kalang kabut. Sementara dari kata "ekarnawa" digambarkan bahwa seluruh Jawa pada saat itu seperti suatu laut, banyak orang binasa. Oleh H. kern (1913), keadaan tersebut diinterpretasikan sebagai suatu perang besar.
Berdasarkan pada kata-kata "the whole Jawa looked like one (milk) sea at that time" Van Hinloopen Labberton (1922) menginterprestasikan kata "ekarnawa" sebagai suatu gemuruh aliran air, banjir atau gelombang pasang air laut. Nama Erlangga diartikan sebagai orang yang terhindar dari (banjir) air. Penyebab keadaan itu mungkin karena erupsi Gunung Merapi. "A white milk sea" terjadi karena diaduk atau dikocok pada awalnya. Ini mengandung arti bahwa pada awalnya Jawa dalam keadaan kacau balau sebelum raja baru Erlangga muncul. Disini Berg (lihat Bommelen, 1971) sependapat dengan Van Hinloopen Labberton bahwa nama "Erlangga" diterjemahkan sebagai "orang yang dapat lolos dari bencana (banjir)".
Penerjemah keempat prasasti "Calcuta Stone" adalah Prof. Poerbatjaraka (1941) dan diterima oleh Casparis (1975) yang menyatakan bahwa raja pendahulu Erlangga telah meninggal karena perang dengan raja Wara-Wari dari Lwaran pada tahun 1017 M, bukan 1006 M. Digambarkan pada saat itu seluruh Jawa laiknya seperti lautan yang terguncang. Selama ini kata-kata "milk sea" atau"ocean of disaster" oleh para ahli geologi dan gunung api dipandang sebagai endapan abu berwarna putih yang tersebar luas akibat letusan dahsyat Gunung Merapi. Interprestasi Van Hinloopen Labberton dan Van Bemmelen ternyata tidak benar karena istana kerajaan telah berpindah di delta Brantas, Jawa Timur pada tahun 1006 M. Jadi hal itu tidak mungkin karena letusan Gunung Merapi (Buchari, 1976). Sementara itu masyarakat Jawa Timur mempercayai bahwa mereka bukan berasal dari Jawa Tengah, dan Raja Erlangga juga dari Bali (Newhall dkk, 1995). Dengan demikian tidak menutup kemungkinan bahwa kerajaan di Jawa Timur dapat saja berasal dari Bali.
Berdasarkan komposisi batuan penyusunnya, yaitu andesit amfibol dan letaknya perbukitan Gendol lebih merupakan bagian dari pegunungan Menoreh di Kulon Progo daripada Gunung Merapi (Wirakusumah dkk, 1980 dan 1989). Sutikno Bronto, 1994 mendukung pendapat Wirakusumah dkk tersebut dengan alasan :
  1. Batuan perbukitan Gendol sudah sangat lapuk menjadi tubuh tanah dengan ketebalan lebih dari lima meter. Tanah setebal itu tidak pernah dijumpai di tubuh Gunung Merapi yang tua sekalipun. Bila dibandingkan dengan endapan longsoran Gunung Galunggung di Jawa barat yang berumur sekitar 4000 tahun (Sutikno Bronto, 1989) hanya membentuk tanah lapul setebal 1-2 meter. Padahal daerah Galunggung itu secara kualitatif mempunyai kelembaban dan curah hujan lebih tinggi daripada Merapi, sehingga prses pelapukan juga lebih cepat.
  2. Di puncak Gunung Sari, salah satu gunung di perbukitan Gendol terdapat kuburan tua atau tempat yang dikeramatkan, ditandai adanya batu berukir yang sudah berserakan dan tidak terawat lagi. Pola ukuran pada batu tersebut nampaknya mirip dengan Candi Borobudur (walaupun hal ini masih diperlukan penelitian lebih lanjut oleh ahli arkeologi). Jika anggapan ini benar maka perbukitan Gendol sudah lebih dulu ada pada saat Candi Borobudur dibangun (850 M, Pemda Jawa Tengah, 1982, Dumarcay, 1986).
Dua hal tersebut diatas menunjukkan bahwa pembentukan perbukitan Gendol jauh lebih tua dari tahun 1006 dan secara geologis dapat merupakan bagian dari Pegunungan Kulon Progo.
Diantara analisis umur mutlak dengan metode Carbon-14 terhadap contoh kayu terarangkan di dalam endapan awan panas salah satunya menghasilkan umur 980 tahun lalu. Umur ini nampaknya mendekati angka 1006 M, dan merupakan endapan awan panas yang menimbun Candi Pendem di Dusun Kajangkoso, Desa Mangunsuko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang. Candi Pendem itu terletak di lereng barat laut sejauh 10 Km dari puncak Gunung Merapi.
Apabila benar terjadi letusan besar pada tahun 1006 M maka kemungkinan endapan awan panas akan tersebar secara luas. Namun kenyataannya endapan awan panas di Kajangkoso ini hanya tersebar terbatas di sepanjang lembah aliran Sungai Senowo (lama). Sekalipun endapan menimbun Candi Pendem, tetapi dengan jarak luncur hanya sekitar 10 Km dan mengarah ke barat laut maka diperkirakan dampaknya juga tidak akan meluas jauh ke barat dan selatan sehingga menyebabkan perpindahan kerajaan Mataram Kuno (Hindu) ke Jawa Timur.
Maka dapat disimpulkan letusan Gunung Merapi pada tahun 1006 M, apalagi sampai melongsorkan lereng baratnya membentuk perbukitan Gendol adalah tidak benar. Sementara perpindahan puusat kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur masih perlu penelitian lebih lanjut dari para Sejarawan. (Disadur dari tulisan Sutikno Bronto).

1 komentar:

  1. Pada masa abad pertengahan tepatnya di Pulau Jawa bagian selatan terjadi bencana alam yang luar biasa. Orang-orang dahulu mengabadikan dalam istilah gunung jugrug, lemah bengkah dan segara sat yang arinya adalah telah terjadi gunung meletus, tanah retak atau patahnya pulau (peristiwa sesar)dan laut kering lalu terjadi tsunami dan peristiwa. Tiga jenis bencana itulah yang mengakibatkan Pulau Jawa bagian selatan menjadi kosong. Sebagian penduduk menjadi korban bencana sementara sebagian lain memilih berpindah tempat yang jauh dari pantai selatan.
    Peristiwa sesar Jawa dibuktikan secara ilmiah melalui penelitian geologi bahwa ada tiga sesar pulau Jawa yang terletak di Cimandiri (Jawa Barat), Kaliopak (Jogjakarta) dan sesar Grindulu (Pacitan Jawa Timur).
    Selain dari itu dalam sebuah catatan sejarah tepatnya pada masa Kerajaan Mataram Hindu yakni kerajaan Medang (awal abad 10) telah terjadi bencana besar yang mengakibatkan pindahnya kerajaan tersebut ke ujung pulau Jawa (Hujung Galuh).
    TRAUMA BENCANA BESAR DI JAWA
    Kita bisa bayangkan betapa dahsyatnya peristiwa alam tersebut jika dibandingkan dengan peristiwa tsunami yang baru terjadi di masa kini, seperti peristiwa tsunami di Aceh. Meski pun jaman sudah modern namun selain banyak korban, dampak pasca bencana sangat mengerikan. Seperti wabah penyakit maupun kekurangan pangan dan tempat tinggal.
    Pada masa kerajaan Mataram Hindu tersebut dalam istilah lemah bengkah, segara sat dan gunung jugrug berarti bencana sesar, tsunami dan gunung meletus (bencana Gunung Merapi). Dengan demikian dapat kita asumsikan bahwa akibat bencana waktu itu jauh lebih mengerikan. Maka sampai-sampai terjadi migrasi besar-besaran ke Hujung Galuh (sekarang di sekitaran Surabaya) itu dilakukan selain mencari keselamatan melainkan memulai babak baru setelah didera trauma akibat kehilangan harta benda, keluarga dan wabah.
    Gempa akibat pergeseran lempeng benua Samudera Laut Selatan (Australia) di dasar laut mendesak dari selatan menghujam dasar bumi pulau Jawa yang terus aktif telah mengangkat dasar laut jawa selatan meninggi. Pesisir Jawa selatan yang dikenal sebagai Pegunungan Seribu yang telah disundul lempengan kerak dari dasar samudera tanpa henti akibatnya permukaan pantai selatan kian hari semakin naik meninggi menjadi perbukitan. Seperti kita lihat di Desa Ketepung Kecamatan Kebonagung, Dadapan, Sedeng, Srau, Watukarung, Ngiroboyo, Klayar sampai Jogja terus dari timur ke barat banyak bukit dan gunung karang kapur yang dulunya adalah dasar samudera.
    Kerak bumi yang terangkat lama-kelamaan mengalami titik jenuh hingga terjadi patahan dan sebagian ambrol menjadi rongga-rongga bawah tanah sangat besar membentuk gua, song maupun luweng/gua vertical.
    Oleh sebab itu selain terdapat Sesar di Sungai Grindulu, Pacitan juga dikenal sebagai daerah seribu satu Gua karena paling banyak ditemukan gua.
    Menurut sebagian cerita orang-orang tua dahulu Ketepung yang berada di pegunungan timur Pacitan dan Dadapan sebelah barat kota dulunya menyatu (keTepung=jadi satu,Dadapan/depdepan=berhadap-hadapan), karena pulau Jawa patah yang dahulunya bersatu menjadi berhadap-hadapan, maka terpisah selebar + 7 Km seluas dataran rendah kota Pacitan.
    Dataran tinggi berupa perbukitan kapur membentang seperti benteng alam Jawa bagian selatan tersebut dikenal sebagai perbukitan Karst.


    Menarik untuk didiskusikan

    BalasHapus