Senin, 31 Agustus 2009

PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 1945 (TULISAN KEEMPAT )

Rombongan tiba kembali ke Jakarta pukul 23.30 WIB. Setelah Bung Karno dan Bung Hatta singgah di rumah masing-masing, rombongan kemudian menuju rumah Laksamana Maeda di jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta. Mereka menuju rumah Maeda karena perwira tinggi Angkatan Laut Jepang ini menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya (penuturan Maeda kepada salah satu pegawainya, Mr. Ahmad Soebardjo).
Sebelum mereka merumuskan teks proklamasi, terlebih dahulu Bung Karno dan Bung Hatta dengan ditemani Laksamana Maeda, Shigetada Nishijima, dan Tomegoro Yoshizumi serta Miyoshi sebagai penterjemah menemui Kepala Pemerintahan Umum (Somubuco) Mayor Jendral Nishimura guna menjajaki sikapnya mengenai proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pertemuan tersebut tidak mencapai kata sepakat sebab Nishimura bersikeras bahwa kebijakan Panglima Tentara ke-16 di Jawa adalah menjaga status quo (status politik) di Indonesia seperti yang diperintahkan Sekutu sehingga berdasarkan kebijakan tersebut Soekarno-Hatta dilarang untuk mengadakan rapat PPKI dalam rangka Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Soekarno-Hatta kemudian sadar bahwa proklamasi kemerdekaan harus diperjuangkan sendiri oleh bangsa Indonesia dan tidak ada gunanya lagi membicarakan kemerdekaan dengan Jepang. Akhirnya mereka hanya mengharapkan Jepang tidak menghalang-halangi pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Soekarno-Hatta lalu kembali ke rumah Laksamana Maeda untuk menyusun teks proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di sini ada pertanyaan menarik yang sampai sekarang belum terjawab, yaitu "Mengapa Soekarno-Hatta harus menyusun teks proklamasi kemerdekaan di rumah Maeda padahal teks proklamasi kemerdekaan sudah ada, tinggal dibaca saja karena BPUPKI cq Panitia Sembilan/Kecil sudah membuatnya (Pembukaan UUD 1945 adalah teks proklamasi yang rencananya akan dibacakan saat proklamasi kemerdekaan Indonesia dilaksanakan)". Apakah gara-gara teks tersebut produk BPUPKI yang notabene buatan Jepang ataukan ada alasan yang lain ? kalau kita baca dua teks tersebut manakah yang lebih berbobot ? teks prokalamsi kemerdekaan buatan BPUPKI cq Panitia Sembilan atau yang disusun di rumah Maeda tanggal 17 Agustus 1945 dini hari tersebut ? Pembaca silahkan memikirkan sekaligus menjawabnya. yang jelas sampai sekarang hal tersebut masih menjadi misteri atau kontroversi walaupun tidak setajam Supersemar.
Penyusunan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia di rumah Laksamana Maeda dilakukan oleh tiga tokoh golongan tua, yaitu Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo. Sementara itu tokoh golongan muda yang menyaksikan sekaligus menjadi saksi penyusunan teks proklamasi adalah Soekarni, B.M Diah, Sayoeti Melik, dan Soediro. Hadirin yang hadir malam di rumah Laksamana Maeda berjumlah 30 orang, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moehammad Hatta, Mr. Ahmad Soebardjo, Dr. Moehammad Amir, Dr. Boentaran, Martoarmojo, Harsono Tjokroaminoto, Mr. I Goesti Ketoet Poeja, Mr. A. Abbas, Mr. Iwa Kusumasumantri, Mr. Johanes Latuharhary, Ki bagoes Hadji Hadi Koesoemo, Mr. Teoekoe Moehammad Hasan, Ki Hadjar Dewantara, R. Otto Iskandardinata, Fr. KRT Radjiman Wediodiningrat, Mr. Soetardjo Kartohadikoesoemo, Prof. Dr. Mr. Soepomo, R. Soekardjo Wirjopranoto, Dr. GSSJ Ratulangi, B.M Diah, Soekarni, Chaeroel saleh, Sayoeti Melik, Anang Abdoel hamidhan, Andi Pangerang, Andi Soeltan daeng Radja, Semaoen Bakry, Soediro, Abikoesno Tjokrosoejoso, dan Dr. Samsi Sastrosidagdo. Pukul 04.30 dini hari tanggal 17 Agustus 1945 teks proklamasi kemerdekaan Indonesia selesai disusun. Bung Karno lalu membacakan naskah proklamasi yang masih berupa konsep tersebut kepada hadirin yang hadir di rumah Laksamana Maeda tersebut sekaligus meminta kepada hadirin untuk menandatangani naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Pendapat tersebut disokong oleh Moehammad Hatta dengan mengambil contoh Declaration Of Independence Amerika Serikat. Namun pendapat Hatta tersebut ditentang keras oleh para pemuda karena beralasan sebagian tokoh tua yang hadir merupakan "budak-budak Jepang." Soekarni selaku tokoh golongan muda lalu mengusulkan agar yang menandatangani teks proklamasi kemerdekaan Indonesia adalah Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Soekarni juga mengusulkan bahwa kata wakil-wakil bangsa Indonesia diganti dengan kalimat atas nama bangsa Indonesia.
Setelah usulan Soekarni disetujui maka Soekarno meminta kepada sayoeti Melik untuk mengetik naskah proklamasi tulisan tangan Soekarno tersebut dengan disertai perubahan-perubahan yang disepakati, yaitu :
  1. Kata tempoh diganti tempo
  2. Kata wakil-wakil bangsa Indonesia diganti dengan kata Atas nama bangsa Indonesia
  3. Dalam hal tanggal dari Djakarta, 17-8-05 menjadi Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05
Selanjutnya timbul persoalan mengenai tempat diselenggarakannya proklamasi kemerdekaan. Soekarni mengusulkan di Lapangan IKADA yang telah dipersiapkan bagi berkumpulnya masyarakat kota Jakarta untuk mendengar pembacaan naskah proklamasi. Namun Soekarno menganggap Lapangan IKADA adalah salah satu lapangan umum yang bisa menimbulkan bentrok antara rakyat dengan pihak militer Jepang. Ia kemudian mengusulkan agar pelaksanaan pemacaan naskah proklamasi kemerdekaan dilaksanakan di rumahnya jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta dan ternyata disetujui oleh hadirin.

1 komentar: