Rabu, 26 Agustus 2009

PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA 17 AGUSTUS 1945 (TULISAN KEDUA)

Dalam menyikapi perkembangan yang terjadi pada akhir kekuasaan Jepang di Indonesia, para pemuda kemudian mengadakan/membentuk konggres/badan/gerakan, yaitu antara lain :
  1. Konggres Pemuda Seluruh Jawa, terjadi pada tanggal 16 Mei 1945 di Bandung. Pada saat konggres ini terjadi BPUPKI belum terbentuk. Konggres ini dipelopori oleh Angkatan Moeda Indonesia. Organisasi ini dibentuk atas inisiatif Jepang pada pertengahan tahun 1944 tetapi kemudian berkembang menjadi organisasi pemuda yang anti Jepang. Konggres dihadiri oleh lebih dari 100 utusan pemuda, pelajar, dan mahasiswa seluruh Jawa, diantaranya Djamal Ali, Chairoel Saleh, Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto, serta sejumlah mahasiswa Ika Daigaku Jakarta. Konggres tersebut menghimbau kepada para pemuda di Jawa hendaknya bersatu dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan yang bukan merupakan hadiah Jepang. Konggres yang berlangsung tiga hari ini memutuskan sertadua Resolusi, yaitu semua golongan Indonesia, terutama golongan pemuda dipersatukan dan dibulatkan di bawah satu pimpinan nasional dipercepatnya pelaksanaan pernyataan kemerdekaan Indonesia. Konggres pada akhirnya menyatakan dukungan sepenuhnya dan kerjasama erat dengan Jepang dalam usaha mencapai kemerdekaan Indonesia.
  2. Pembentukan Gerakan Angkatan Baroe Indonesia, Pernyataan pada Konggres Pemuda Seluruh Jawa tidak memuaskan beberapa tokoh pemuda yang hadir, seperti utusan dari Jakarta yang dipimpin oleh Soekarni, Harsono Tjokroaminoto, dan Chairoel Saleh. Mereka bertekat untuk mempersiapkan suatu gerakan pemuda yang lebih radikal. Untuk itu pada tanggal 3 Juni 1945 diadakan suatu pertemuan rahasia di Jakarta untuk membentuk suatu panitia khusus yang diketuai oleh B.M Diah, dengan anggotanya Soekarni, Soediro, Sjarif Thajeb, Harsono Tjokroaminoto, Wikana, Chairoel Saleh, P. Gultom, Soepeno, dan Asmara Hadi. Pertemuan semacam ini diadakan lagi pada tanggal 15 Juni 1945, yang menghasilkan pembentukan Gerakan Angkatan Baroe Indonesia. dalam praktiknya kegiatan organisasi itu banyak dikendalikan oleh para pemuda dari asrama Menteng 31. Tujuan dari gerakan itu, seperti yang tercantum di dalam suratkabar Asia Raja pada pertengahan bulan juni 1945 menunjukkan sifat gerakan yang lebih radikal, misalnya membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia maupun menanamkan semangat revolusioner massa atas dasar kesadaran mereka sebagai rakyat yang berdaulat.
  3. Pembentukan Gerakan Rakyat Baroe, organisasi ini dibentuk berdasarkan hasil sidang ke-8 Cuo Sangi In. Sidang tersebut mengusulkan berdirinya suatu gerakan untuk mengobarkan semangat perang dan cinta tanah air. pembentukan badan ini diperkenankan oleh Saiko Shikikan yang baru, Letnan Jendral Y. nagano pada tanggal 2 Juli 1945. Susunan pengurus pusat terdiri dari 80 orang. Anggotanya terdiri atas penduduk asli Indonesia, bangsa Jepang, golongan Cina, golongan Arab, dan golongan peranakan Eropa. Tokoh-tokoh pemuda radikal seperti Chairoel Saleh, Soekarni, B.M. Diah, Asmara Hadi, Wikana, Harsono Tjokroaminoto, Soediro, Soepeno, Adam Malik, S.K. trimoerti, Soetomo, dan Pandoe kartawigoenadiikutsertakan dalam organisasi itu. Tujuan Pemerintah Jepang mengangkat wakil-wakil dari golongan pemuda adalah agar Pemerintah Jepang dapat mengawasi kegiatan-kegiatan mereka. Sumobuco mayor Jendral Nishimura menegaskan bahwa setiap pemuda yang tergabung di dalamnya harus tunduk sepenuhnya kepada Gunseikanbu (Pemerintah Militer Jepang) dan mereka harus bekerja di bawah pengawasan peabat-pejabat Pemerintah Jepang. Dengan demikian, kebebasan bergerak para pemuda dibatasi sehingga muncullah ketidakpuasan. Oleh karena itu, tatkala Gerakan Rakyat Baroe ini diresmikan pada tanggal 28 juli 1945, tidak seorangpun pemuda radikal yang bersedia menduduki kursi yang telah disedikan. Akibatnya perselisihan paham antara golongan tua dan golongan muda tentang cara melaksanakan pembentukan negara Indonesia merdeka tampak semakin tajam.
Pada tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan karena telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Sebagai gantinya Pemerintah Jepang lalu membentuk PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) atau Dokuritsu Junbi Linkai. Anggota PPKI berjumlah 21 orang ( 12 wakil dari Jawa, 3 wakil dari Sumatra, 2 wakil dari Sulawesi, seorang dari Kalimantan, seorang dari Sunda Kecil (Nusa Tenggara), seorang dari Maluku, dan seorang lagi dari golongan penduduk Cina. PPKI dipimpin oleh Ir. Soekarno sebagai ketua, Drs. Moehammad Hatta sebagai wakil dan Mr. Ahmad Soebardjo sebagai penasehat. Kepada para anggota PPKI , Gunseikan Mayor Jendral Yamamoto menegaskan bahwa para anggota PPKI bukan hanya dipilih oleh pejabat di lingkungan Tentara ke-16 tetapi juga oleh Jendral Terauchi Hisaichi yang menjadi penguasa perang tertinggi di Asia Tenggara.
Dalam rangka pengangkatan anggota PPKI, Terauchi memanggil tiga tokoh pergerakan nasional, yaitu Ir. Soekarno, Drs. Moehammad Hatta, dan dr. Radjiman Wediodiningrat ke markas Terauchi di Dalat, Vietnam Selatan. Pada tanggal 9 Agustus 1945 bersamaan dengan dijatuhkannya bom atom kedua di Jepang, yaitu di kota Nagasaki, ketiga tokoh bangsa Indonesia tersebut berangkat ke Vietnam. Dalam pertemuan dengan Terauchi pada tanggal 12 Agustus 1945 disampaikanlah tiga hal penting kepada 3 tokoh bangsa Indonesia tersebut, yaitu :
  1. Pembentukan PPKI (sudah dibentuk pada tanggal 7 Agustus 1945)
  2. Memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia (dilaksanakan setelah PPKI telah menyiapkan segala sesuatunya)
  3. Wilayah Indonesia akan meliputi seluruh seluruh bekas wilayah Hindia Belanda
Setelah menerima janji Pemerintah Jepang tersebut, ketiga tokoh tersebut pulang kembali ke Jakarta pada tanggal 14 Agustus 1945. Tanpa sepengetahuan ketiga tokoh bangsa Indonesia tersebut, kota Hiroshima dan Nagasaki telah di bom atom oleh Sekutu. Uni Sovyet menyatakan perang kepada Jepang dan menyerbu Manchuria sehingga kekalahan Jepang sudah di depan mata. Tanggal 15 Agustus 1946 ketiga tokoh bangsa Indonesia tersebut tiba kembali di Indonesia. Dengan bangganya Ir. Soekarno berkata :"sewaktu-waktu kita dapat merdeka ; soalnya hanya tergantung kepada saya dan kemauan rakyat memperbaharui tekatnya meneruskan perang suci Dao Tao ini. Kalau dahulu saya berkata 'sebelum jagung berbuah', Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka, sebelum jagung berbuah." Perkataan itu menunjukkan bahwa Ir. Soekarno pada saat itu belum mengetahui bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945 (menyerah tanpa syarat).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar