Selasa, 26 Mei 2009

PEMBANTAIAN TERHADAP ORANG-ORANG CINA DI BATAVIA 10 OKTOBER 1740 ( TULISAN PERTAMA )

Pembunuhan terhadap orang-orang Cina tidak hanya terjadi di era Orde Lama dan Orde Baru saja, namun juga di masa VOC Belanda. Hal itu terjadi pada tanggal 10 Oktober 1740, ketika Gubernur Jendral Valckenier berkuasa di Batavia. Dia memerintahkan tentara Kompeni Belanda untuk membunuh orang-orang Cina yang ada di dalam penjara dan rumah sakit.
Tidak hanya itu, tentara dan pegawai VOC ternyata bertindak sewenang-wenang dan di luar batas peri kemanusiaan. Mereka merampok serta membakar rumah dan toko-toko orang Cina. Banyak sekali orang Cina di Batavia yang dibunuh, dianiaya, dan diperkosa. Alhasil kota Batavia dan sekitarnya menjadi kacau balau karena ada perlawanan dari warga Cina. Dalam sejarah, peristiwa itu dikenal sebagai "Pembantaian Orang-Orang Cina" dan orang Belanda menakannya Chinezenmoord.
Akar penyebab terjadinya peristiwa yang memilukan itu karena meledaknya jumlah orang Cina di Batavia. Memang sejak Jan Pieters Zoon Coen menjadi Gubernur Jendral dan merebut Batavia, ia mengimbau agar orang-orang Cina membangun kota tersebut. Tak ayal, ada 800 orang Cina yang bermukim di sini, dan diantara mereka ada yang diberi pimpinan atau kepala sendiri yang diberi pangkat Kapten (Kapitein der Chineze atau Kapten Orang-Orang Cina).
Gubernur Jendral setelah Jan Pieters Zoon Coen juga memberi kesempatan luas bagi kiprah orang-orang Cina. Di masa Jacques Specx, orang Cina sangat puas atas penerimaan VOC, sehingga ketika akan mengakhiri jabatannya sebagai Gubernur Jendral VOC, masyarakat Cina menganugerahinya medali emas.
"Sebagai tanda terima kasih dan kenangan selalu. Kami warga Cina Batavia membuat medali ini untuk Jacques Specx, Gubernur Jendral di Hindia Timur tokoh terkemuka dan pelindung kami", demikian tulisan yang terdapat dalam medali emas tersebut.
Namun peningkatan jumlah penduduk Cina membuat khawatir para pembesar VOC lainnya. Mereka melihat diantara orang-orang yang pendatang itu, tidak semuanya jago dagang dan berkebun, tapi ada diantara mereka yang menganggur. Tak heran bila kemudian bermunculan kasus pencurian, perampokan, dan pembunuhan. Para penganggur ini tidak hanya menyerang warga pribumi tetapi juga warga Belanda.
Pimpinan VOC kemudian membuat aturan yang membatasi kedatangan orang-orang Cina di Batavia. Bisa dipahami karena pada abad ke-17, diperkirakan ada 4000 orang Cina di batavia. Akan tetapi orang Cina menggunakan segala macam cara untuk lolos dari aturan tersebut, ada yang menyogok pegawai VOC ada pula yang membuat kekacauan.
VOC lalu membuat aturan untuk menangkap orang-orang Cina yang tidak mempunyai pekerjaan atau mata pencaharian, baik yang sudah memiliki ijin menetap apalagi yang tidak mempunyai surat tersebut. Kondisi panas tersebut menyebabkan terjadinya syak wasangka antara orang-orang Cina dan Kompeni Belanda.
Ada kabar yang menyatakan bahwa orang-orang Cina yang ditahan dikirim sebagai budak ke Ceylon (Srilangka). Desas-desus itu menyebutkan mereka dipekerjakan sebagai pengupas kulit kayu manis dan banyak yang mati sehingga dibuang ke laut oleh VOC. Tak ayal warga Cina membentuk kelompok-kelompok atau laskar yang terdiri dari 50-100 orang. kabar lain menyebutkan bahwa orang Cina sudah bersatu untuk menyerbu VOC.
Di Tangerang pecah konflik terbuka antara pasukan VOC dengan laskar Cina. Dan pada tanggal 8 Oktober 1740, warga Cina yang tinggal di pinggir kota mulai menyerang Batavia. Pembesar Belanda marah dan punya alasan logis, mereka kemudian melakukan penyerangan terhadap warga Cina di Batavia dan daerah pinggiran. Terjadilah pembantaian massal orang Cina.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar