Selasa, 07 April 2009

SERBUAN BANTEN KE BATAVIA

Konflik VOC dengan Banten makin mengental setelah Belanda mencaplok Jayakarta. Pada bulan Desember 1627, orang-orang Banten merencanakan pembunuhan terhadap Jan Pieters Zoon Coen. Beberapa orang Banten berpura-pura berdagang dengan VOC. Mereka sudah siap membunuh Gubernur Jendral VOC Belanda tersebut di jembatan setelah J.P Coen meninggalkan Kasteel Belanda. Pihak Banten membuat skenario, orang-orang Belanda akan panik setelah pimpinannya dibunuh. Kondisi tersebut merupakan kesempatan bagi tentara Banten untuk masuk dan merebut Batavia. Sayang siasat itu terlanjur bocor. J.P Coen telah diberitahu dan diperingatkan oleh orang-orang Cina yang menjadi sekutunya. Pihak Banten yang mengetahui bahwa siasat mereka telah bocor, menjadi marah. Mereka mengamuk dan membunuh beberapa orang Belanda.
Pada tahun 1633, VOC bertindak sewenang-wenang terhadap orang Banten yang berlayar dan berdagang ke kepulauan Maluku. Tentu saja, pihak Banten marah, sehingga pecah perang diantara mereka. Dimana saja kapal Banten dan VOC bertemu, mereka pasti bentrok. Di daerah Angke yang diduduki VOC, pasukan Banten sering melakukan penyerangan terhadap pos-pos Belanda. Bahkan mereka juga sering menyergap dan membunuh orang-orang Belanda. Bagi VOC, Banten merupakan musuh yang sangat memusingkan. Karena letak Banten yang dekat dengan Batavia, mereka jadi mudah menyerang kepentingan VOC. Lebih dari itu, kekuatan maritim Banten juga relatif lebih kuat ketimbang Mataram. Kapal-kapal Banten yang lebih kecil kerap menyulitkan armada VOC yang kapalnya besar-besar, karena kapal kecil lebih lincah bergerak.
Orang Banten adalah penganut Islam yang taat dan hubungan mereka dengan Mekkah sangat erat. Sementara itu, Belanda penganut Kristen, sehingga di mata warga Banten fanatik, orang Belanda dianggap kafir yang merusak kehidupan agama Islam. Hubungan antara Banten dan VOC semakin mendidih setelah Sultan Abdulfath Abdulfatah naik tahta. Di buku-buku sejarah, Sultan ini dikenal dengan sebutan Sultan Ageng Tirtayasa yang memerintah pada tahun 1650-1682.
Pada tahun 1658, pasukan Banten yang berjumlah 5 ribu orang menyerang Batavia di daerah Angke dan Tangerang dibawah pimpinan Raden Senopati Ingalaga, Haji Wangsareja, dan lain-lain. Kedatangan tentara Banten itu ternyata sudah diketahui oleh VOC, maklum mereka telah menyebar mata-mata di kalangan penduduk pribumi dan Cina. Maka terjadilah pertempuran seru antara Banten dan VOC. karena Belanda menggunakan meriam ukuran besar, mereka pun berhasil menggagalkan serangan musuh, dan Batavia tidak jatuh ke tangan Banten. ( U. Widyanto, Kompas ).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar