Sabtu, 31 Mei 2014

GAREBEG SEKATEN, MEDIA DAKWAH WALISANGA DI TANAH JAWA ( 2 )

Mungkin telah banyak diketahui kata "Sekaten" berasal dari bahasa Arab Syahadatain, artinya dua kalimah syahadah. Yang dimaksud dua kalimah syahadah ini adalah kalimah Asyhadu alla illallah atau "saya bersaksi tidak ada Tuhan selain Allah" dan kalimah Wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah yang artinya "saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu utusan Allah". 
Sedang simbolisasi syahadatain ini adalah dua perangkat gamelan hasil karya Sunan Kalijaga yang digunakan untuk mengundang orang-orang agar bisa berkumpul. Kedua gamelan itu dulu dibunyikan setiap peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Masjid Demak. Dua perangkat gamelan tersebut diberi nama Kanjeng Kiai Nawawilaga dan Kanjeng Kiai Gunturmadu atau lebih dikenal dengan sebutan Nyai Sekati dan Kiai Sekati.
Sedang "Garebeg" berasal dari Bahasa Jawa kuno garebeg, artinya mengikuti atau ndherekake, yaitu mengikuti miyos dalem, diantaranya para Gusti Bandara Pangeran, abdidalem sipat Bupati, dan beberapa abdidalem yang bertugas.
Di Kasultanan Yogyakarta, perayaan Sekaten ditunjang dengan berlangsungnya pasar malam di Alun-Alun Utara. Dan menjelang puncak upacara Grebegan, di halaman Keben Kraton Yogyakarta banyak pedagang kakilima menjajakan nasi gurih, telur merah, penjual sirih, dan sering terlihat juga penjual pecut.
Dulu setiap berlangsungnya keramaian itu, para kerabat Dalem juga keluar Kraton ikut menyempatkan diri membeli nasi gurih, makan sirih, dan sebagainya.
Menurut kepercayaan yang sampai sekarang masih dilakukan, konon bila memakan daun sirih (nginang), baik laki-laki maupun perempuan akan awet muda.
Sebenarnya hal tersebut hanya simbolisasi. Makan sirih (nginang), kelengkapannya berbagai jenis tumbuhan. Di samping sirih, ada gambir dan injet (adonan kapur). Dengan membiasakan diri memakan daun sirih, dengan sendirinya gigi akan awet, tidak mudah rusak akibat terkena campuran batu kapur. Tempo dulu, bila seseorang sudah lanjut usia namun bentuk giginya masih utuh dan nampak putih bersih, pasti dikatakan awet muda. Lain halnya makna sebut pecut. Yang tertarik membeli pecut berbarengan perayaan Sekaten, sebagian para petani. Konon, bila seorang petani penggarap sawah (penggaru atau ngluku) menggunakan pecut untuk mencambuk kerbau atau sapi yang digunakan untuk menggarap sawah, hewan tersebut akan bertambah kekuatannya dan tidak mudah capai. Dengan demikian, waktu untuk bekerja di sawah dapat lebih lama dan mendapat hasil lebih, seperti yang diharapkan.

Rabu, 30 April 2014

GAREBEG SEKATEN, MEDIA DAKWAH WALISANGA DI TANAH JAWA ( 1 )

Di empat bekas Kerajaan Islam, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Demak, dan Cirebon setiap tiga kali dalam setahun diadakan suatu kegiatan yang disebut Sekaten (Di Cirebon namanya Panjang Jimat). Pasar malam merupakan rangkaian dari perayaan Sekaten. Perayaan Sekaten sendiri akan diawali dengan ditempatkannya dua perangkat Gamelan di halaman Masjid Gede untuk kemudian dibunyikan setiap hari. Puncaknya, pada 12 Maulud puncak upacara Garebeg Sekaten, yakni kelaurnya Hajad Dalem berupa Gunungan untuk diperebutkan di halaman Masjid Gede.
Sebenarnya, Garebeg sudah diselenggarakan sejak jaman Kerajaan Islam Demak. Dilestarikan keberadaannya pada jaman Mataram di bawah kekuasaan Panembahan Senopati, sampai era pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo.
Sampai saat ini, Garebeg dilaksanakan tiga kali dalam setahun, yakni setiap awal bulan Syawal, tanggal 10 bulan Besar (Idul Adha) dan tanggal 12 bulan Maulud (bertepatan peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Karena itu Garebeg Maulud pelenggaraannya agak berbeda. Sebelumnya diramaikan dengan perayaan Sekaten. 
Berbicara soal Upacara Garebeg Maulud, tidak bisa lepas dari Sunan Kalijaga. Karena upacara tradisional ini merupakan prakarsa beliau. Atas prakarsa Sunan Kalijaga dulu setiap tahun bertepatan dengan peringatan Maulud, di halaman Masjid Demak diselenggarakan Tabligh Akbar oleh para Wali. Tabligh ini berkaitan dengan peringatan maulud Nabi besar Muhammad SAW. Kegiatan tersebut sekaligus diperuntukkan musyawarah para Wali.
Dalam kegiatan tersebut, di salah satu sudut halaman Masjid ditempatkan seperangkat Gamelan hasil karya Sunan Kalijaga. Sedang dibagian lain, dihias dengan dekorasi menarik seperti layaknya orang berpesa atau seperti Pasar malam. Orang yang ingin menyaksikan perayaan tersebut harus lewat sebuah Gapura (pintu gerbang) yang dikatakan sebagai pintu pengampunan. Seperti diuangkapkan Umar Hasyim dalam bukunya "Sunan Kalijaga", kata Gapura berasal dari bahasa Arab Ghofuro, artinya memberi ampun. Orang yang melewati pintu gerbang hendaknya membaca kalimah Syahadat, artinya sudah masuk agama Islam.
Setelah serambi dan halaman Masjid dipadati pengunjung, upacara dimulai dengan diperdengarkan bunyi Gamelan, diiringi irama gending-gending dakwah. pada kesempatan ini para Wali mulai memberikan dakwah perihal kebenaran Agama Islam.

Jumat, 28 Maret 2014

HARRY A. POEZE, 36 TAHUN BERBURU JEJAK TAN MALAKA ( 3 )

Kesempatan menuntaskan misteri Tan Malaka datang tahun 1997 saat Poeze mendapat Sabbathical Leave selama setahun, yang digunakan untuk menulis buku. Bab I, Tan Malaka Verguisd en Vergeten ternyata memerlukan waktu sepuluh tahun untuk diselesaikan, setebal 2.200 halaman.
Poeze menemui pula tokoh-tokoh pada hari-hari terakhir Tan Malaka. Dia berkeliling ke beberapa pedesaan di kaki Gunung Wilis, Jawa Timur, tempat Tan Malaka bergerilya melawan Belanda.
Napak tilas ditempuhnya di Desa Belimbing yang menjadi markas dan pusat propaganda Tan Malaka bersama 50 anak buahnya. Desa Patje, tempat Tan Malaka ditahan pasukan Divisi Brawijaya pun dia sambangi.
Tempat terakhir Desa Selo Panggung yang menjadi puncak riset Poeze adalah tempat Tan Malaka ditembak mati pasukan Batalyon Sikatan pimpinan Letnan Dua Soekotjo, Tan Malaka tewas pada tanggal 21 Februari 1949.
"Bahkan tubuhnya tak diperlakukan layak. Untung Menteri Bachtiar Chamsyah berjanji mengirim tim forensik ke Desa Selo Panggung untuk mencari sisa jenazah Tan Malaka. Beliau bernasib tragis sebagai Pahlawan Nasional yang namanya timbul tenggelam dalam sejarah, karena keberadaan dia tergantung pada kepentingan penguasa, "tutur Poeze.
Fakta sejarah itu dipersembahkan Poeze untuk masyarakat Indonesia lewat buku yang telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebanyak enam jilid. Bagi Poeze, Tan Malaka adalah sosok pemimpin kerakyatan yang ideal bagi generasi sekarang.
Harta yang ditinggalkannya hanya sepasang kemeja, topi, celana, tongkat, pensil, dan buku tulis - benda yang menjadi andalan baginya untuk menulis sejarah. Tan Malaka membuktikan harta terbesar sebuah bangsa adalah kekayaan pemikiran yang disajikan lewat guratan pena. (Iwan Santosa)

Selasa, 04 Februari 2014

HARRY A. POEZE, 36 TAHUN BERBURU JEJAK TAN MALAKA ( 2 )

Penelusuran awal itu menjadi dasar skripsi Poeze. Materi itu juga menjadi bahan penulisan buku Dari Penjara Ke Penjara. Poeze lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang S-1 hingga S-3. Tan Malaka, yang menurut Poeze adalah "Che Guevara", menjadi obyek penelitiannya.
Penelusuran lebih lanjut dilakukannya di Eropa, Asia, Australia, dan Amerika Serikat. Arsip di Moskwa, Uni Sovyet, pelbagai kota di Australia seperti Sydney dan Canmerra, serta Washington DC, Amerika Serikat menjadi sumber penelitian.
Arsip Tan Malaka sebagai salah satu tokoh penting tercatat baik di Amerika Serikat dan Australia karena dua negara tersebut menjadi mediator perundingan Belanda-Indonesia pada pasca kemerdekaan.
Setelah menyelesaikan disertasi tahun 1976, Poeze mengunjungi Indonesia dan membangun kontak di Jakarta. Namun misteri Tan Malaka paska Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 masih tertutup kabut gelap.
Kesempatan emas muncul pada tahun 1980 ketika Poeze bertemu dengan Hasan Sastraatmaja, mantan sekretaris Tan Malaka yang dengan antusias membuka pintu bagi penelitian Poeze. Hasan yang bermukim di Jakarta itu lalu memperkenalkan Poeze dengan sejumlah lawan maupun kawan Tan Malaka.
Berbagai tokoh seperti Sultan Hamengkubuwono IX hingga wakil presiden Adam Malik ditemui Poeze. Adam Malik secara terbuka mendukung ide kerakyatan Tan Malaka, meski dia berdiri di kubu Golongan Karya (Golkar).
Perjumpaan Poeze dengan para tokoh 1945 berlanjut, antara lain dengan Jendral Abdul Harris Nasution, Muhammad Natsir (tokoh Masyumi), S.K. Trimurti, tokoh pemberontakan PKI 1948 Sumarsono, serta ratusan tokoh lainnya.
Namun, kesibukan dan tuntutan kerja menghadang upaya penulisan buku pada tahun 1981, saat Poeze ditunjuk menjadi Direktur Penerbitan KITLV Press. Meskipun demikian, dia selalu menyempatkan diri kembali ke Indonesia untuk mengumpulkan data.

Jumat, 31 Januari 2014

HARRY A. POEZE, 36 TAHUN BERBURU JEJAK TAN MALAKA ( 1 )


Ia mendedikasikan 36 tahun lebih sejak tahun 1971 untuk menguak perjuangan dan kematian Tan Malaka. Itulah pengabdian seorang Harry A. Poeze, Direktur Penerbitan Institut Kerajaan Belanda Untuk Studi Karibia dan Asia Tenggara atau KITLV di Leiden. Karya Penelitian Poeze tentang babak akhir hidup Tan Malaka akhirnya tuntas Maret 2007 melalui penerbitan buku Tan Malaka : Verguisd en Vergeten (Tan malaka : Di hujat & Dilupakan).

Bermula dari rasa ingin tahu saat dia masih menjadi mahasiswa jurusan Sejarah di Amsterdam Universiteit, Belanda, Poeze terpikat pada Sejarah peralihan dari abad ke-19 ke abad ke-20 yang penuh eksotisme Hindia Belanda. Itulah masa yang jadi inspirasi penulis besar, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Bob Nieuwenhuis.
Hindia Belanda kala itu berada dalam pengaruh kuat "Politik Etis" dan mempersiapkan putra-putri penggagas bangsa bernama Indonesia. Dia terpikat pada sebuah nama : Tan Malaka.
Nama besar Tan Malaka berulang kali muncul dalam karya-karya ilmuwan Amerika Serikat, Ruth McVey tentang kelahiran komunis di Indonesia. Rasa penasaran Poeze membawa dia pada awal penelitian mendatangi bekas sekolah dan rumah Tan Malaka di Haarlem, tak jauh dari Amsterdam. 
"Tahun 1971 saya bertemu dengan 12 teman sekolah Tan Malaka yang masih hidup. Mereka sama-sama menempuh pendidikan Guru (Kweek School) di Haarlem. Begitu dalam kesan yang ditinggalkan Tan Malaka. bahkan, dokumentasi surat-surat dua guru dia di Sekolah Fort De Kock di Bukit Tinggi, yang memberi rekomendasi dan dukungan, masih terekam baik di Haarlem," cerita Poeze.
Tan Malaka memang amat pandai karena dialah satu-satunya siswa kulit berwarna di Kweek School yang ditempuhnya tahun 1913-1919. Masa Perang Dunia Pertama ia lalui di Belanda. Bahlan, setelah dia lulus, direktur Kweek School ketika itu khusus meminta warga Belanda di Sumatera Utara memperlakukan Tan Malaka sebgai orang Eropa. 

Senin, 30 April 2012

PELAJARAN DARI MAJAPAHIT ( 1 )

Majapahit adalah negara besar, lebih luas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Armada lautnya kuat. Rakyatnya makmur. Tak ada kabar busung lapar. Perempuan Bali bebas ke pasar telanjang dada tanpa takut kena razia. Yang menarik, para pemeluk bermacam agama bisa hidup rukun. 
Pelajaran sejarah hanya menyebut Majapahit sebagai kerajaan Hindu. Padahal, saat itu masyarakat Majapahit sudah amat beragam. Hindu sendiri terdiri dari tiga agama besar. Agama Brahma, agama Wishnu, dan agama Syiwa. Lalu ada Budha, Tantrayana, Syiwa Budha dan Budha Bhairawa. Semua mendapat tempat di Majapahit tanpa diskriminasi.
Penganut Animisme juga banyak. Oleh pemeluk agama lain, mereka tidak dianggap kafir sebab inilah agama asli warisan nenek moyang. Kerajaan besar ini amat toleran dengan keberagaman karena belajar dari kekonyolan kerajaan terdahulu. Sebelum era Majapahit, agama sering dimanfaatkan untuk saling bunuh guna merebut kekuasaan. Sebab, saat itu belum ada KPU, Pemilu, dan Pilkada. Untuk bisa berkuasa, orang harus tega membunuh lawan politiknya.
Puncak saling bunuh terjadi pada jaman Singasari. Ke Arok membunuh tuannya, Akuwu Tumapel Tunggul Ametung, lalu mengawini jandanya, Ken Dedes. Kemudian ia mengangkat dirinya sebagai Akuwu, sebelum menjadi Raja Singasari dan akhirnya terbunuh. Saling bunuh diantara elite politik pun berlanjut. Alasannya amat mistis, yaitu adanya kutukan Empu Gandring si pembuat keris. Para pengikut agama Syiwa, Wisnu, Brahma, Buddha, dan Tantrayana ikut saling membunuh demi kekuasaan duniawi.
Sebelumnya, perseteruan sengit juga pernah terjadi antara kerajaan Sumatera yang Buddha dan kerajaan Jawa yang Hindu. Kerajaan Buddha menang dan sempat beberapa generasi menguasai Jawa. Para penganut Hindu menyingkir ke Jawa Timur. Inilah yang membuat Buddha berkembang di Jawa. Pelajaran dari kerajaan ini membuat Majapahit menjadi negara besar, terbuka, dan toleran terhadap semua ideologi, bahkan terhadap agama yang amat baru dan aneh.
Di era Majapahit, Eropa sudah terbagi menjadi berbagai kerajaan, sebagian masih eksis hingga kini. Agama Katholik Roma yang berumur 14 abad sedanga mengalami puncak kejayaan. Islam yang lahir pada abad ke-t Masehi juga tumbuh pesat. Kemaharajaan Ottoma menunjukkan hegemoninya di Timur Tengah, Afrika Utara bahkan sebagian Eropa. Tarekat Rahib Katholik banyak berdiri. Saat itulah seorang Rahib sempat berkunjung ke Majapahit.
Orang bule dengan agama baru yang aneh ini di Majapahit diterima dengan baik. Setelah kunjungan selesai, ia dibiarkan pergi. Saat itu, selain menguasai sebagian Eropa, pengaruh Islam juga melebar sampai India, daratan Cina, Semenanjung Malaya, dan Aceh. Setelah masyarakatnya menganut Islam, Kerajaan Pasai tumbuh sebagai kekuatan alternatif di Nusantara. Pasai menjadi makmur dan kuat. Mereka lalu tidak mau setor upeti ke pusat.
Bagi Majapahit, tidak setor upeti bukan urusan agama. Ini murni soal soal kenegaraan dan uang. Pasai perlu diberi pelajaran tanpa membawa bawa agama. Armada laut dikirim. Dengan mudah Pasai ditaklukkan. Lalu, seperti biasa, harta rampasan dibawa pulang, termasuk perempuan, para putri Pasai. Namun, perempuan hasil rampasan ini tidak diusik sedikit pun, apalagi direndahkan martabatnya.

Sabtu, 31 Maret 2012

KAPITEIN SO BENG KOEN, PERINTIS BATAVIA YANG TERLUPAKAN

Batu nisan Tionghoa (Bongpay, dalam dialek Hokkian) menyembul di tengah perumahan kumuh yang dibelah Gang Taruna yang sempit disisi jalan Pangeran Jayakarta. Sepintas tidak ada yang istimewa karena tak ubahnya pemakaman Tionghoa yang dirambah menjadi perumahan seperti di kawasan Karang Anyar dekat jalan Lau Tze, Jakarta Pusat.
Pada bagian tengah nisan tertulis dua karakter Tionghoa berbunyi Ming dan Jia. Pada batu peringatan di sebelah nisan tersebut barulah tertulis riwayat orang yang dikuburkan dalam bahasa Belanda bertarikh (1619-1640) : " Kapitein So Beng Koen " atau kerap disebut Sobengkong.
So Beng Koen adalah Kapitein Tionghoa pertama di Batavia sekaligus perintis perekonomian pada awal abad ke-17. Tian Li Tang, aktivis paguyuban Kota Tua Jakarta, menjelaskan, Beng Koen adalah tokoh yang diandalkan gubernur jendral pertama Jan Pieter Zoon Coen, saat gagal membuka Batavia sebagai pusat perdagangan.
Jan Pieter Zoon Coen dengan berbagai cara berhasil mendorong Beng Koen pindah ke Batavia dari Banten. Kalau Beng Koen dan 400 orang Tionghoa tidak pindah, bisa dipastikan ekonomi Batavia tidak bisa berkembang," katanya.
Pada nisan berbahasa Belanda tertulis sekilas riwayat Beng Koen yang disebut sebagai handelaar (pedagang).
Adolf Heuken dalam Historical of Jakarta menulis "Beng Koen adalah pimpinan komunitas Tionghoa di Jakarta. Dia memiliki kedudukan sejajar dengan para Kapitein lainnya seperti dari suku Bugis, Bali, Makassar, India, dan Mardijkers, dan kelompok etnis lain yang mengembangkan kota Batavia. Hubungan antar etnis demikian erat dan tercatat Beng Koen memiliki dua istri wanita Bali yang memberinya dua putra".
Heuken mencatat, Beng Koen mencetak uang tembaga, saudagar kapal, kontraktor, pedagang, dan juga memegang lisensi penyelenggaraan judi di Batavia.
Beng Koen adalah sobat dari Jan Pieter Zoon Coen dan sering berperan sebagai diplomat dalam hubungan antara Belanda dan pihak Banten-Inggris. Dia juga mengembangkan perdagangan antara Formosa (Taiwan) dengan Batavia pada masa akhir Dinasti Ming.
Rai Pranata, aktivis Kota Tua Jakarta, menjelaskan, keturunan So Beng Koen akan membangun perkumpulan dan merevitalisasi kawasan makam. Wilayah itu pada abad ke-17 adalah taman dari kediaman Beng Koen. Apakah situs ini akan menjadi ikon Jakarta seperti nama Kapten Yap Ah Loy, kapten Tionghoa pertama di Malaysia - menjadi salah satu simbol Kuala Lumpur ? Entahlah waktu yang akan menentukan (Iwan Santosa)