Selasa, 31 Mei 2011

TERLUPAKAN : NASIONALISME ALA PEMUDA (4)

Arti dari itu semua adalah bahwa wacana (discourse) tentang nasionalisme populer muncul dari kalangan pemuda dan menjadi pendorong berdirinya negara Indonesia. Wacana itu muncul dari pengalaman konkret para pemuda dari berbagai kelompok maupun kelas sosial yang bersama-sama menghimpun kekuatan untuk mengusir kekuatan fasis dan imperialis dari wilayah yang kemudian mereka namakan bangsa Indonesia.
Dalam bukunya, Java in a Time of Revolution : Occupation and Resistence, 1944-1946, terbitan Cornell University Press. 1972, maupun dari edisi Indonesianya, Revolusi Pemuda Terbitan Sinar Harapan, 1988, Ben Anderson menguraikan bahwa "Organisasi-organisasi Pemuda yang terbentuk di masa pendudukan adalah hasil dari situasi krisis. Lembaga ini bukanlah sebuah jejak untuk menapaki karier atau bagian dari siklus kehidupan. Organisasi-organisasi itu diciptakan bagi satu momen sejarah ke depan, yaitu sejarah terbentuknya sebuah bangsa".
Pengalaman mereka di dalam organisasi-organisasi tersebut memungkinkan para pemua membangun rasa solidaritas, rasa persaudaraan, serta kekuatan massa diantara mereka sendiri yang dalam kenyataannya berasal dari berbagai daerah, kelompok budaya, agama maupun kelas sosial. Pentingnya kelompok-kelompok ini terletak bukan pada pengaruhnya terhadap pemerintahan pendudukan, melainkan pada identitas-identitas politik yang mereka ciptakan, yang menjadi sangat berarti setelah berakhirnya perang itu.
Bahkan menurut Ben Anderson, gerakan bawah tanah yang dijalankan para pemuda paling tepat dilihat sebagai kerangka pemikiran ketimbang sebagai organisasi atau bahkan kelompok-kelompok. Ia mencerminkan kemauan yang tumbuh di pihak pemuda metropolitan untuk menganggap diri sebagai pemikir pikiran-pikiran berbahaya. Jika seseorang merasa terhina oleh penderitaan yang dialami sebagian besar penduduk, oleh kelaparan yang merajalela, oleh perilaku menjijikkan aparat pemerintah dalam menyusun daftar penduduk yang akan dijadikan Romusha dan menjalankan setoran wajib beras bagi Jepang, seseorang itu sudah dapat dianggap berada dalam gerakan bawah tanah.
Rasa solidaitas dan persatuan terbangun untuk bukan saja menghadapi kekuatan asing di Tanah Air mereka, tetapi juga untuk sebuah cita-cita akan negeri yang baru, yang merdeka dan bebas dari segala bentuk penindasan. Barangkali benar pernyataan Soekarno bahwa "Di tangan pemudalah terletak masa depan bangsa Indonesia". (BI PURWANTARI)

Kamis, 31 Maret 2011

TERLUPAKAN : NASIONALISME ALA PEMUDA (3)

Langkah para pemuda memperjuangkan kemerdekaan negerinya seringkali tidak sejalan dengan pemikiran para pemimpin nasional. Ketika berita kekalahan demi kekalahan pasukan fasis di Eropa maupun kapitulasi Jepang sampai ke telinga para pemuda, mereka segera menyusun rencana untuk mempercepat tercapainya kemerdekaan. Beberapa pemuda, yaitu Trimurti, Chaeroel Saleh, Pandoe, Adam Malik, Wikana, B.M. Diah, Soepeno, Soekarni, mendesak para pemimpin nasional yang sedang di Jakarta untuk-dengan atau tanpa izin Jepang-mengumumkan Proklamasi Kemerdekaan. Desakan ini disambut dengan senyuman dan peringatan agar tidak percaya kabar angin tentang situasi di Eropa.
Namun, para pemuda tetap bergerak mempersiapkan kemerdekaan. Bagi mereka, kemerdekaan tidak dapat ditunda. Oleh karena itu mereka memutuskan para pemimpin yang berpengaruh harus dilepaskan dari cengkeraman Jepang agar tidak ditangkap Jepang karena mengikuti rencana pemuda. Maka terjadilah "penculikan" Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok. Jepang masih berusaha mencegah dibacakannya proklamasi dengan mengirimkan utusan untuk mengembalikan kedua pemimpin nasional ke Jakarta agar pertumpahan darah dapat dicegah. Balasan pemuda adalah proklamasi tidak dapat diganggu gugat lagi. Kedua pemimpin tidak akan diserahkan ke Jepang dan pertumpahan darah hanya dapat dicegah jika Jepang tidak merintangi pembacaan proklamasi.
Perundingan dengan Jepang diadakan lagi dan Jepang tetap tidak mau membiarkan proklamasi dilakukan, sementara pihak Indonesia yang diwakili dua pemuda (Soekarni dan Chairoel Saleh) tetap akan melakukannya. Di bawah ancaman Jepang, naskah proklamasi ditulis dan ditandatangani Soekarno-Hatta. Pada saat itu saluran komunikasi, seperti radio sepenuhnya dikuasai Jepang dan dijaga dengan senjata. Oleh karena itu, naskah proklamasi yang telah diperbanyak disebarkan dari mulut ke mulut dan dari orang ke orang. Proklamasi pun dibacakan.
Setelah proklamasi kemerdekaan, para pemuda masih terus aktif membangun gerakan, terutama untuk mengusir Jepng dan Sekutu.

Minggu, 27 Februari 2011

TERLUPAKAN : NASIONALISME ALA PEMUDA (2)

Organisasi massa yang cukup besar dengan anggota-anggota yang berasal dari beberapa daerah dan didirikan atas inisiatif Soekarno setelah ia dipulangkan ke Jawa oleh Jepang adalah PUTERA (Poesat Tenaga Rakjat).
Tujuan pendirian ini untuk menanamkan jiwa kemerdekaan di kalangan rakyat Indonesia. Upaya ini mendapat sambutan dari rakyat dan semangat kemerdekaan menggelora. Pemerintah Jepang ketakutan dengan perkembangan organisasi ini sehingga setelah 10 bulan berdiri, lembaga ini dibubarkan dan diganti dengan Djawa Hokokai (Himpunan Kebaktian Jawa). Meskipun Soekarno masih memimpin organisasi ini, namun karakternya bukan lagi sebagai PUTERA sehingga tidak banyak yang terlibat didalamnya.
Setelah PUTERA dibubarkan, selain membentuk Djawa Hokokai, Jepang juga mendirikan Angkatan Muda, Seinendan, dan Keibodan. Kegiatan aktif para pemuda anti fasis membentuk sel-sel baru itu bertujuan menghalangi semakin meluasnya semangat perang untuk Jepang di kalangan untuk Jepang di kalangan anggota organisasi-organisasi bentukan Jepang. Pendirian organisasi tidak hanya terjadi di Jakarta. Barisan Rakyat Indonesia (BRI) misalnya dibentuk di Solo, Yogyakarta, dan Purwodadi. Maksud pendiriannya sebagai kedok membantu Jepang selama masa pendudukan, sedangkan di dalam organisasi ini para pengurusnya berusaha menghimpun para pemuda lain dan menyusun kekuatan massa. Mereka memperbanyak sel-sel dan kader-kader baru, baik di daerah perkotaan maupun perkampungan dan sekolah-sekolah.
Gerakan bawah tanah yang dilaksanakan para pemuda itu bukannya tidak menuai penderitaan atas diri mereka. Beberapa yang akhirnya diketahui sebagai mata-mata ditangkap oleh Ken Pei Tai, disiksa, dan dipenjarakan, bahkan ada yang dihukum mati. Banyak lagi lainnya yang berhasil lolos sebelum sempat ditangkap, segera dikirim menjauh, masuk ke kampung-kampung membaur dengan rakyat biasa. Penangkapan dan pemenjaraan terjadi di seluruh wilayah, baik Jakarta maupun Jawa Tengah Selatan, dan Jawa Timur.

Minggu, 30 Januari 2011

TERLUPAKAN : NASIONALISME ALA PEMUDA (1)

"Lebih baik moesnah daripada didjadjah", "Lebih baik mati tergilas oleh pertempoeran daripada hidoep menjerah serta ditahan oleh tentara imperialis djahanam". Begitulah bunyi ungkapan-ungkapan kemarahan para pemuda saat revolusi kemerdekaan 1945. Ungkapan-ungkapan para pemuda tersebut memperlihatkan kepada rakyat Indonesia bahwa tidak dapat disangkal apabila dikatakan bahwa pemudalah yang menjadi penghela, pendukung, dan pembela Revolusi Indonesia.
Pada jaman pendudukan Jepang di Indonesia, para pemuda aktif membangun gerakan bawah tanah dengan cara menyelundup ke dalam organisasi-organisasi bentukan Jepang seperti Heiho, Peta, Seinendan, Kaigun, Barisan Pelopor, bahkan juga menyusup ke Ken Pei Tai (Polisi Rahasia Jepang). Bentuk penyusupan mereka adalah dengan bekerja di lembaga-lembaga Jepang tersebut. Mereka yang bekerja di dalam diwajibkan menanam sel-sel yang akan menjadi tambahan kekuatan para pemuda selain juga untuk mendapatkan informasi tentang siapa yang akan ditangkap pleh Ken Pei Tai. Sementara mereka yang tidak menyusup, aktif merekrut para pemuda dengan mendatangi rumah-rumah atau tempat kerja mereka dan menyebarkan berbagai bacaan untuk menjadi bahan diskusi atau mendirikan organisasi antifasis di bawah tanah.
Di wilayah Jakarta tercatat beberapa organisasi yang aktif menentang pemerintah fasis Jepang, yaitu Barisan Pemuda Gerindo-sayap pemuda dari Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)-Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindom), Barisan Angkatan Pemuda Indonesia (API), Barisan Buruh Indonesia, dan Barisan Rakyat (Bara) yang dibentuk setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Selain organisasi-organisasi tersebut, para pemuda juga mendapatkan pendidikan politik di beberapa asrama, yaitu Asrama Angkatan Baru Indonesia di Menteng 31 yang dipimpin oleh Soekarni dan Chairoel Saleh serta Asrama Indonesia Merdeka dibawah pimpinan Wikana dengan dibantu oleh D.N. Aidit dan Samsudin. Asrama-asrama itu didirikan oleh Jepang dengan perantaraan beberapa pemimpin Indonesia seperti Soekarno, Moehammad Hatta, dan Soebardjo. Meskipun didirikan oleh Jepang, namun asrama itu juga menjadi tempat memberikan pelajaran politik antifasis sehingga bagaimanapun kerasnya usaha para pembesar Jepang mempengaruhi para pemuda, perlawanan berupa debat dan kritik terus menerus tetap ada.

Jumat, 31 Desember 2010

MERAH PUTIH & KEMERDEKAAN MALAYSIA (2)

Kecewa dengan melemahnya peran politik Melayu, KMM mendirikan Partai Kesatuan Melayu Malaya (PMKM) di Ipoh pada tanggal 17 Oktober 1945. Misi mereka tetap non kooperasi dan anti penjajahan. Pada Konggres I PMKM di Ipoh, 3 Desember 1945-yang sangat luar biasa dan sangat penting bagi sejarah Malaysia dan Indonesia-Konggres memutuskan bergabung dengan Indonesia dan bendera PMKM adalah Merah Putih.
Kemudian muncul gerakan Malayan Union (Malaya Bersatu), satu gagasan kolonial Inggris menghadapi gerakan kiri PMKM. Misinya membujuk elite feodal Malaya agar tetap di bawah kendali penjajahan Inggris. Gerakan kanan ini kemudian menjelma menjadi United Malays National Organization (UMNO), organisasi yang memilih gerakan lembut menghadapi Inggris.
Dalam PMKM terdapat unsur radikal kiri dan Islamis. Mereka beranggapan, demi perjuangan mengusir penjajah, perasaan perkauman dengan keturunan Cina dan India tidak dipermasalahkan. Bagi UMNO, perasaan perkauman menjadi penting agar daulat raja tetap eksis di tanah Melayu. Perbedaan lainnya dengan PMKM adalah UMNO melihat bergabung dengan Indonesia bukan jalan terbaik bebas dari penjajahan Inggris dan (ketika itu) menolak Merah Putih sebagai bendera partai sebagaimana bendera PMKM.
Untuk menghadapi gerakan kanan UMNO, pemimpin PMKM membentuk koalisi Pusat Tenaga Rakyat (Putera) gabungan berbagai organisasi nasionalis dan Islam, dimana PMKM berada didalamnya. Putera lalu mendirikan partai baru, Hizbul Muslimin. Akibat provokasi Inggris dan pihak kanan, Hizbul Muslimin tetap dianggap sebagai gerakan kiri radikal. Lima bulan setelah Hizbul Muslimin berdiri, tujuah pemimpinnya ditangkap Inggris dengan UU Keamanan Dalam Negeri.
Selanjutnya UMNO memang menjadi organisasi dominan berkat bimbingan Inggris dan dominasi pemimpin kanan Melayu. Persekutuan Tanah Melayu merdeka tanggal 31 Agustus 1957 dan lalu menjadi Malaysia dengan memasukkan Sabah dan Serawak (1963), lagi-lagi berkat Inggris.
Gerakan kiri pra UMNO menjadi "tidak penting" dalam sejarah pergeraan kebangsaan Malaysia. Gerakan nasionalis tidak lagi menjadi rujukan para elite politik Malaysia, seolah-olah bagian kelam pergerakan nasional rakyat Malaya.
Para pemimpin Malaysia sekarang tidak memiliki akses sejarah semacam itu karena dibesarkan dan dididik dalam wawasan kebangsaan dalam iklim koloni Inggris. Mungkin mereka tidak tahu proses penolakan dan penerimaan "Merah Putih" pada bendera UMNO sebagaimana juga "Merah Putih" pada bendera nasional Singapura (Zulhasril Nasir)

Selasa, 30 November 2010

MERAH PUTIH & KEMERDEKAAN MALAYSIA (1)

Fakta sejarah menunjukkan hubungan kedua bangsa yang kini dikenal sebagai nation-state Indonesia dan Malaysia sebenarnya pernah erat. United Malays National Organization (UMNO) memakai bendera Merah Putih dengan lambang Keris warna kuning ditengahnya. Bendera tidak sekedar hubungan warna. Ia memiliki sejarah yang menurut pejuang Malaya, Ahmad Boestaman, dicapai dengan darah.
Pejuang kemerdekaan Malaysia lainnya ada banyak. Mereka sebagian besar keturunan Minangkabau dan sebagian lagi keturunan Bugis. Sebagai pejuang anti penjajahan Inggris, mereka aktif di Kesatuan Melayu Muda (KKM), Partai Kesatuan Melayu Malaya (PKMM), dan di Partai Komunis Malaya (PKM). Ibrahim Jacob dan Ahmad Boestaman adalah pemimpin kemerdekaan yang paling dikenal di Semenanjung Malaya. Keduanya sangat terinspirasi oleh gelora kemerdekaan Indonesia dan dua pemimpin besar Indonesia : Tan Malaka dan Soekarno.
KKM didirikan di Kuala Lumpur, April 1939 oleh Ibrahim Jacob bersama Hasan Haji Manan, Idris Hakim, M. Isa Mahmud, dan Abdoellah Kamil (mantan besan Soeharto). Partai Komunis Malaya mendirikan Tentara Anti Jepang Rakyat Malaya (Malayan People's Anti Japanese Army) dan KKM bersama Ibrahim Jacob ikut Gyu Gun, milisi bentukan Jepang. Seperti Jaman pendudukan Jepang di Indonesia, Letnan Kolonel Ibrahim Jacob menamai pasukannya dengan PETA (Pembela Tanah Air). Ibrahim bersama Dr. Boerhanoeddin Helmi juga mendirikan KRIS (Kesatuan Rakyat Indonesia Semenanjung).
Bagi KRIS merdeka adalah untuk bersatu dengan Indonesia. Ibrahim bersama Boerhanoeddin Helmi menemui Soekarno-Hatta di Singapura tanggal 8 Agustus 1945 yang dalam perjalanan dari Jakarta menuju Dalat, Saigon, Vietnam Selatan untuk menemui Laksamana Terauchi. Dengan mengibarkan bendera Merah Putih saat menyambut Soekarno dan Hatta, keduanya menyatakan bahwa Semenanjung Malaya tidak dapat dipisahkan dari Indonesia Raya ( M. Salleh Lamry 2006:51 .
Mereka bertemu Soekarno dan Hatta lagi di Taiping, Perak, sekembalinya dari Dalat, 13 Agustus 1945. Kesepakatan yang dicapai adalah Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan 24 Agustus 1945 dan Semenanjung Malaya adalah bagian dari Indonesia Raya. Ternyata Proklamasi Kemerdekaan RI pada tanggal 17 Agustus 1945 dan Soekarno Hatta tidak pernah menjelaskan ikhwal kesepakatan Taiping. Meski demikian, Soekarno pada tahun 1960-an menampung pejuang nasionalis Malaya di Jakarta saat konfrontasi dengan Malaysia.

Jumat, 22 Oktober 2010

DIBALIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI 1945 : NASKAH BERSEJARAH ITU TAK PERNAH DISIMPAN (3)

Prosesi bersejarah yang telah ditunggu lebih dari 300 tahun tersebut memang berjalan sangat singkat. Tak ada protokol atau korps musik. Bahkan tiang bendera pun dibuat dari batang bambu secara kasar, serta ditanam hanya beberapa menit menjelang upacara.
Namun yang lebih ironis, naskah teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang masih berupa konsep tulisan tangan Bung Karno ternyata tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh pemerintah. Naskah historis tersebut justru disimpan dengan baik oleh wartawan bernama Boerhanoedin Moehammad Diah yang menemukan draft Proklamasi itu di keranjang sampah di rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari, setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.
Pada tanggal 29 Mei 1992, Diah menyerahkan draft tersebut kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan 19 hari. Tidak hanya itu, Iwan Satyanegara dan banyak sumber di internet juga mengisahkan mengenai Bendera Pusaka Sang Merah Putih. Warna putih bendera pusaka itu berasal dari kain sprei tempat tidur dan warna merahnya dari kain tukang soto. Meski demikian, kebenaran kabar ini juga belum terungkap.
Hal menarik juga terjadi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Di Jakarta, tempat diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia dan kota tempat Bung Karno dan Bung Hatta berjuang, nama Soekarno-Hatta baru diabadikan sebagai nama sebuah obyek pada tahun 1985, ketika sebuah bandara diresmikan dengan memakai nama mereka. Bahkan, hingga memasuki tahun milenium, 2000, di Jakarta tidak terdapat satu pun nama jalan Soekarno-Hatta.
Yang lebih ironis, gelar Proklamator untuk Bung Karno dan Bung Hatta, hanyalah gelar lisan yang diberikan rakyat Indonesia kepadanya selama 41 tahun sebab, baru 1986 Pemerintah memberikan gelar Proklamator secara resmi kepada mereka. (A. Rizky D. Polii)