Selasa, 31 Agustus 2010

DIBALIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN RI 1945 : NASKAH BERSEJARAH ITU TAK PERNAH DISIMPAN (1)

Tahun ini (2010), perayaan HUT Kemerdekaan RI terasa sedikit istimewa. Alasannya, perayaan HUT RI kali ini terjadi di bulan Ramadhan. Nuansa Ramadhan tersebut juga terjadi saat Soekarno membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan tahun 1945 silam. Tidak hanya Ramadhan, peristiwa bersejarah untuk bangsa Indonesia itu juga diwarnai sejumlah kejadian yang jarang diangkat ke permukaan.
Hal yang mungkin belum banyak diketahui adalah pemilihan tanggal 17 menjadi hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Peristiwa tanggal 17 tersebut terungkap saat Soekarno dan Moehammad Hatta diculik dan dibawa ke Rengasdengklok, sebuah kota kecil di Karawang, oleh sejumlah pemuda (Soekarni, Singgih, dan Yoesoef Koento), sehari sebelum Proklamasi.
Para pemuda itu mendesak Soekarno-Hatta segera mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia mengingat Jepang baru saja dihantam Bom Atom oleh Sekutu. Melalui perdebatan panjang, Soekarno akhirnya memberikan alasan mengapa ia menyiapkan tanggal 17 sebagai hari Proklamasi.
"Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang tepat. Di saigon (Vietnam), saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan ini untuk dijalankan tanggal 17,"katanya singkat. "Mengapa tanggal 17, mengapa tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?" tanya tokoh pemuda saat itu Soekarni.
"Saya seorang yang percaya pada mistik. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik,"jawab Soekarno.
"Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang berada dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua berpuasa, ini berarti saat yang paling suci bagi kita. Tanggal 17 besok hari Jum'at, hari Jum'at itu Jum'at Legi, Jum'at yang berbahagia, Jum'at suci. Al Qur'an diturunan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 Raka'at, oleh karena itu kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia," ujar Soekarno sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984;61).
Menariknya, tanggal 17 Agustus menjadi semakin sakral buat Indonesia mengingat di tanggal tersebut sejumlah pencetus pilar Indonesia menutup mata. Pada tanggal itu, pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya, Wage Rudolf Soepratman, tutup usia, tepatnya 17 Agustus 1938 (sebagian sumber menyebut 1937). Di tanggal itu, pencetus ilmu Bahasa Indonesia, Herman Neubronner Van Der Tuuk, juga meninggal dunia, tepatnya 17 Agustus 1894.
Pada hari Jum'at, 17 Agustus 1945 sekitar pukul 10.00, saat bulan Ramadhan, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akhirnya diumumkan di rumah Bung Karno, jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta. Menariknya, dalam naskah asli itu tanggal pembuatan yang tertulis adalah 17-8-'05. Tahun '05 tersebut ternyata merujuk pada tahun Jepang, tepatnya 2605.

Jumat, 30 Juli 2010

KALENDER PRANATA MANGSA

Pranata Mangsa adalah pedoman petani selama puluhan bahkan ratusan tahun. Jauh sebelum Kalender Saka ada berkat pengaruh Hindu, Kalender Hijriyah berkat pengaruh Islam, dan Kalender Masehi karena pengaruh Barat (Kristen), bangsa Indonesia telah mengenal adanya Kalender yang disebut Pranata Mangsa. Pranata Mangsa terbagi menjadi 12 Mangsa (Mongso : bahasa Jawa), yaitu :
  1. Mangsa Kasa (22 Juni - 1 Agustus). Alam : Kemarau, Angin timur laut. Hama : Kepinding tanah, Kepik Hijau, Belalang. Petani : mengolah tanah (Palawija)
  2. Mangsa Karo (2 Agustus - 22 Agustus). Alam : Kemarau, Angin utara. Hama : Kepinding tanah, Belalang, Kepik Hijau. Petani : Menyiapkan Padi Gogo
  3. Mangsa Ketiga (25 Agustus - 17 September). Alam : Kemarau, Angin timur laut. Hama Kutu, Ulat. Petani : Tanam Padi Gogo
  4. Mangsa Kapat ( 18 September - 12 Oktober ). Alam : Hujan mulai turun, Angin barat laut. Hama Walang Sangit, Kepik Hijau, Tikus. Petani : Tanam padi umur pendek.
  5. Mangsa Kalima ( 13 Oktober - 8 November ). Alam Musim Hujan, Angin barat laut. Hama : Tikus, Shonte, Puthul. Petani : Tanam padi umur pendek
  6. Mangsa Kanem ( 9 November - 21 Desember ). Alam : Musim Hujan, Angin barat laut. Hama : Tikus, Ulat Jati, Ulat Besi, Burung. Petani : Tanam benih yang diponjo
  7. Mangsa Kapitu ( 22 Desember - 2 Februari). Alam : Banyak Hujan, Angin kencang. Hama : Trips, Walang Sangit, Pengerek batang. Petani : Memperbaiki alat pertanian.
  8. Mangsa Kawolu ( 3 Februari - 28/29 Februari). Alam : Jarang hujan, Angin barat daya. Hama : Uret, Trips, Pengerek batang. Petani : Mengolah tanah sawah.
  9. Mangsa Kasongo ( 1 Maret - 25 Maret ). Alam : Jarang hujan, Angin selatan. Hama : Belalang, Walang Sangit. Petani : Musim Tanam padi.
  10. Mangsa Kasadasa ( 26 Maret - 18 April ). Alam : Mareng, Angin timur laut. Hama : Belalang, Penyakit daun, Pengerek batang. Petani : Merawat tanaman Padi.
  11. Mangsa Desta ( 19 April - 11 Maret ). Alam Mareng, Angin timur laut. Hama : Belalang, Kutu, Wereng. Petani : Tanam kacang-kacangan.
  12. Mangsa Sadha ( 12 Mei - 21 Juni ). Alam : Kemarau, Angin timur laut. Hama : Ulat, Kutu, KepikPenyakit. Petani : Sawah Bero.
Seiring dengan perubahan alam, Kalender Pranata Mangsa bisa dikatakan tidak dipakai lagi oleh para petani Indonesia saat ini. Apa yang menjadi patokan atau ciri selama ratusan tahun dalam dua belas Mangsa tersebut sekarang tidak sesuai lagi karena adanya "Global Warming atau pemanasan global" yang menyebabkan iklim berubah-ubah begitu cepat. Dulu kalau bulan April - Oktober pasti musim kemarau dan bulan Oktober - April pasti musim hujan. Tetapi sekarang tidak berlaku. Bulan Juli yang seharusnya musim kemarau ternyata hujan masih turun, demikian pula sebaliknya. Mudah-mudahan manusia segera menyadari kesalahan ini sehingga alam akan kembali bersahabat dengan kita.

Rabu, 23 Juni 2010

PERJUANGAN AWAL, PARA WALI DI JAWA (8)

Setelah Jaka Tingkir menjadi Raja Pajang dengan gelar Hadiwijaya, ajaran Manunggaling Kawula Gusti dijadikan agama resmi kerajaan. Ketika seorang raja yang suka bertapa muncul di Mataram, yaitu Panembahan Senapati, lebih-lebih pada jaman Sultan Agung Hanyokrokusumo ajaran itu berkembang pesat. Sultan Agung mengarang buku 'Sastra Gending' yang berisi ajaran Manunggaling Kawula Gusti. Penggantinya, yaitu Amangkurat I merasa dirinya Allah sehingga ia memerintah sesuka hatinya bahkan bekerjasama dengan Belanda yang menjadi musuh ayahnya. Pangeran Alit, adik kandungnya sendiri, Bupati Cakraningrat I dari Madura, dan 43 selir Amangkurat I dibunuh tanpa penyelidikan akan kesalahan apa yang diperbuatnya, gara-gara dituduh meracun selir kesayangannya Ratu Malang. Juga keluarga Pangeran Pekik dibunuhnya pula. Sebanyak 6000 ulama ahli Sunni murid-murid Sunan Giri Kedhaton dibantai di alun-alun dihadapan Amangkurat I. Mereka dituduh menimbulkan keresahan pada masyarakat karena tidak sepaham dengannya. Apakah itu balas dendam Sidi Jinnar ??? (Babad Tanah Jawa)
Pernah terjadi di jaman kemerdekaan (1965 ?), satu group kethoprak merekam dan menyebarkan kaset berjudul Siti Jenar, dengan dialog-dialog yang jelas antipati kepada para Walisanga. Untung Kejaksaan Agung RI melarang peredaran kaset yang menghebohkan itu.
Kesimpulan dari tulisan-tulisan diatas adalah :
  1. Perjuangan para Walisanga dalam mensiarkan agama Islam di Jawa ternyata penuh tantangan dan permasalahan, tetapi semua dilaksanakan dengan dasar kebijaksanaan, musyawarah (ramah-tamah), dialog (tukar pikiran) dalam muker Walisanga
  2. Perbedaan pendapat bukan menjadi halangan/pertentangan tetapi bahkan sebagai keseimbangan, saling asah-asuh-asih, saling koreksi, dan mengingatkan, mendorong demi kesatuan dan persatuan
  3. Prinsip pokok syiar agama Islam dilaksanakan dengan damai, menghormati jasa penguasa yang berjasa memberikan kesempatan syiar agama Islam walaupun berbeda agama (Majapahit)
  4. Tragedi Siti Jenar mengungatkan kita untuk berhati-hati dalam memahami ajaran Manunggaling Kawula Gusti, yang sampai sekarang masih berkembang dan diminati, bahkan dipelajari secara ilmiah
  5. Sampai sekarang umat banyak sekali yang menziarahi makam para Walisanga, baik Walisangan periode I - V. Mereka datang dari seluruh Indonesia, sebagai penghormatan atas jasa-jasanya mereka membukakan iman kita ke jalan yang lurus dan benar (Drs. Budiono Herusatoto, B.Sc)

Minggu, 06 Juni 2010

PERJUANGAN AWAL, PARA WALI DI JAWA (7)

Syekh Siti Jenar dan Ajarannya
Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang atau Syekh Sidi Jinnar. Sidi = tuan, Jinnar = orang yang kekuatannya seperti api. Konon Syekh ini berasal dari Persia.
Alkisah, saat Sunan Bonang sedang mewejang Sunan kalijaga ilmu tingkat tinggi yang sangat rahasia, yang tidak mungkin dipahami oleh orang awam, Sunan Bonang mengajak Sunan Kalijaga ke tempat yang jauh dan sepi, di tengah rawa-rawa di tepi pantai utara yang tidak pernah dijamah oleh manusia. Di tengah perjalanan ternyata perahu yang mereka naiki bocor, sehingga oleh Sunan Kalijaga ditambal dengan tanah liat. Saat Sunan Bonang berpesan mewanti-wanti kepada murid terpilihnya jangan sampai salah faham, karena bisa salah kedaden bila pemahamannya keliru. Kesalahan fatal memahami ilmu tersebut si murid bisa mengaku dirinya sebagai Allah. Saat mewejang Sunan kalijaga tersebut Sunan Bonang merasakan ada getaran sihir di perahu itu. Ternyata ada seseorang yang menyamar diri dengan ilmu sihir bersembunyi di dalam perahu tersebut. Sunang Bonang memeriksa tanah liat yang digunakan oleh Sunan kalijaga untuk menambal perahu yang bocor. Ternyata dalam tanah liat tersebut terdapat seekor cacing, dan cacing tersebut diambil dan berubah menjadi Syekh Sidi Jinnar yang belum dikenalnya. Setelah berkenalan Sidi Jinnar dinasehati bahwa "sihir dilarang dalam agama Islam". Dan Sidi Jinnar menjawab "mohon bimbingan", sehingga akhirnya Sidi Jinnar berguru kepada Sunan Bonang. Ia kemudian berguru pula kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri, bahkan akhirnya diterima sebagai anggota Walisanga.
Sidi Jinnar membuka perguruan dan muridnyapun banyak pula, salah seorang diantaranya terkenal sebagai Ki Ageng Pengging, ayah Jaka Tingkir yang kemudian menjadi menantu Sultan Trenggana (Raja Kerajaan Islam demak), dan kemudian setelah Kerajaan demak hancur karena perebutan tahta antar keluarga, Jaka Tingkir merebut kekuasaan dan memindahkan kerajaan ke Pajang, dan bergelar Sultan Hadiwijaya.
Wejangan Sunan Bonang terhadap Sunan Kalijaga ternyata terbukti, yakni dengan menyimpangnya ajaran Sidi Jinnar dari ajaran Islam. Sidi Jinnar lama kelamaan meninggalkan Shalat berjama'ah bersama para wali di Masjid Demak, bahkan tidak melakukan Shalat sama sekali dan mengakui dirinya itu Allah.
Para Wali kemudian bersidang dipimpin oleh Sunan Giri sebagai Mufti atau pimpinan para ulama. Kemudian mengutus Santri Kodrat dan Santri Malang Sumirang untuk memanggil Sidi Jinnar di goa tempat Sidi Jinnar menyepi.
Ketika pesan panggilan ke Masjid Demak diutarakan, jawaban Sidi Jinnar dari dalam goa : "Sidi Jinnar tidak ada yang ada hanya Allah" Utusan kembalilah kepada para Wali.", teriaknya. Utusan-pun kembali ke Demak untuk melapor. dan makin kuat dugaan para wali bahwa Sidi Jinnar telah sesat, dan kedua santri Sunan Giri itu diutus kembali untuk memanggil Allah ke Demak. kali ini Sidi Jinnar menjawab : "Allah tidak ada yang ada Sidi Jinnar". Utusan kembali ke Masjid Demak melapor. Sunan Giri menyuruhnya kembali supaya Sidi Jinnar datang menghadap. Diskusipun berlangsung seru. "Gusti dan kawula itu sama. Allah adalah aku sendiri, tidak ada gunanya menjalankan syariat yang ada hanya hakekat. Allah dan Sidi Jinnar sudah bersatu, kalau Sidi Jinnar menyembah Allah, itu berarti Allah menyembah Allah" demikian Sidi Jinnar. "Itu ajaran sesat, persis ajaran Syeh Al Halaj yang berpaham wihdatul wujud, mengaku dirinya Tuhan Allah. Itu akan membahayakan ummat. Di Baghdad Syeh Al Halaj dihukum mati". Sidi Jinnar-pun dihukum mati. Namun Sunan Giri memberi innah satu tahun untuk memperbaiki diri. Setelah lewat satu tahun ternyata Sidi Jinnar tidak berubah, maka dilaksanakanlah hukuman mati itu oleh Sunan Kudus.
Murid-murid Sidi Jinnar adalah Ki Ageng Pengging, Ki Ageng Tingkir, Pangeran Panggung, Ki Lontang Asmara yang ikut bela pati pada Sidi Jinnar. Konon setelah Sidi Jinnar dikuburkan, ia mengeluarkan ancaman kepada para wali : "Sidi Jinnar akan membalas tindakan para wali. Nanti, di jaman Mataram bila ada raja suka bertapa pada saat itulah dendam saya akan terlaksana"

Jumat, 04 Juni 2010

PERJUANGAN AWAL, PARA WALI DI JAWA (6)

Kelompok Santri Putihan dan Santri Abangan menunjukkan sikap demokratisnya ketika :
  1. Sunan Kalijaga menciptakan wayang, kesenian Jawa yang sangat disukai oleh rakyat, karena waktu itu pertunjukkan wayang sebagai alat untuk mendatangkan Hyang atau arwah nenek moyang. Gambar wayang Jawa kuno berbentuk gambar manusia seperti relief pada Candi Prambanan. Sunan Giri pemimpin santri putihan memerintahkan kepada Sunan Kalijaga untuk menciptakan bentuk wayang yang tidak mirip manusia karena dilarang menurut tuntunan Nabi. Wayang pertama ciptaan Sunan kalijaga adalah Gunungan. Kemudian ia menciptakan tokoh Bathara Guru, yang kemudian diberinya nama Girinata, kenang-kenangan bahwa Sunan Giri-lah yang menata alam dunia baru pewayangan, pergantian ke jaman Islam, dengan bentuk wayang purwo yang sekarang kita kenal.
  2. Pembukaan Masjid Demak, dimeriahkan dengan pagelaran Wayang Kulit/Purwo dengan dalang Sunan Kalijaga. Hal itupun hasil musyawarah dalam sidang para Walisanga, hasil diskusi kelompok Santri Putihan dan Santri Abangan.
Kebijaksanaan, ramah tamah, bertukar pikiran selalu menjadi pedoman dan tindakan para Walisanga.Menurut pakar sejarah Jawa dari Belanda Dr. H.J. De Graaf, pemerintahan Giri Kedhaton berlangsung selama 200 tahun, dimulai dari tahun 1470 Masehi, yaitu :
  1. Sunan Giri yang pertama atau Raden Paku
  2. Sunan Giri yang kedua atau Sunan Dalem
  3. Sunan Giri yang ketiga atau Sunan Sedamargi
  4. Sunan Giri yang keempat atau Sunan Giri Prapen
  5. Sunan Giru yang kelima atau Sunan Kawis Guwa
  6. Panembahan Ageng Giri
  7. Panembahan Mas Witana Sideng Rana, wafat tahun 1660 Masehi
  8. Pangeran Puspa (bukan keturunan Sunan Giri) yang diangkat oleh Sultan Amangkurat I
  9. Panembahan Singasari
  10. Panembahan Giri

Jumat, 28 Mei 2010

PERJUANGAN AWAL, PARA WALI DI JAWA (5)

Para anggota Walisanga adalah orang-orang yang terpilih dan mendapatkan sebagian karomah Nabi, yakni barokah. Merekalah peletak dasar syiar agama Islam di Jawa, sejak datangnya Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1404 Masehi. Walisanga yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat itu selalu mengkonsolidasikan diri dan mengkoordinasikan segala kegiatan dakwah Islamiyahnya. Sehingga pada hakekatnya Walisanga adalah sebuah organisasi para wali yang keanggotaannya mengalami perubahan dan penggantian, tetapi tetap berjumlah sembilan. Dalam pelaksanaan dakwahnya menghadapi masyarakat Jawa yang berlatar belakang pluralistik, yaitu budaya Hindu, Budha, Kejawen, Animisme, dan Dinamisme, maka diperlukan taktik dan strategi serta metode dakwah Islamiyahnya. Perbedaan sikap dan cara dakwah membuat dakwah para Walisanga terbagi dua, yaitu cara moderat dan cara konservatif.
Golongan moderat menuduh golongan konservatif sebagai ekstrim, tidak tahu situasi dan kondisi, tidak pandai-pandai membawa diri, tidak mengerti hikmah kebijaksanaan, dan masih banyak cercaan lainnya. Mereka dipimpin oleh Sunan Kalijaga, dengan didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Murua, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Jati. Mereka ini disebut Santri Abangan, yaitu golongan yang masih mentolerir kepada adat-istiadat dan kepercayaan lama, tidak tergesa-gesa merubah adat istiadat lama, tetapi dipengaruhi sedikit demi sedikit, diarahkan secara bijaksana denga media dakwah. Rakyat diambil hatinya agar simpati, senang, mengerti, dan kemudian mencintai.
Tujuan kelompok Santri Abangan adalah ingin meng-Islam-kan orang Jawa secepat mungkin, dengan jalan agak kompromi atau dengan mengikuti arus tetapi tidak hanyut. Golongan konservatif yang dipimpin oleh Sunan Giri dan didukung Sunan Ampel dan Sunan Drajat, menuduh golongan moderat sebagai tidak konsekwen dalam menjalankan perintah agama Islam, ingin memalsukan agama Allah, berkompromi dengan kaum batil, mencampur yang haq dengan yang batil, Islam palsu, dan sebagainya. Mereka dijuluki Santri Putihan, yaitu dalam masalah ibadah tidak kenal kompromi dengan adat istiadat dan kepercayaan lama. Ibadah harus dilaksanakan secara murni dan konsekwen. Ibadah harus sesuai dengan aturan yang terdapat dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasul. Sunan Giri adalah seorang yang ahli dalam ilmu Taukhid dan ilmu Fikih. Beliau sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan hukum takut kalau tidak sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tujuan kelompok Santri Putihan adalah menghindari terjadinya penyelewengan aturan agama Islam.
Namun demikian kedua aliran tersebut tetap bersatu padu menjaga Ukhuwah Islamiyahnya, menjaga persatuan umat. Hal tersebut ditunjukkan dalam bergotong royong membangun Masjid Demak, membantu Raden Patah mendirikan Kerajaan Demak dan meruntuhkan Kerajaan Majapahit setelah keturunan raja Majapahit tidak lagi memimpin Majapahit karena ditundukkan oleh Raja Girindrawardhana dari Kediri. Prabu Brawijaya Kertabhumi, ayah Raden Patah tewas dalam memberikan kesempatan kepada Sunan Ampel dan Sunan Giri menyiarkan agama Islam di wilayah Majapahit. Setelah Sunan Ampel wafat pimpinan Walisanga digantikan oleh Sunan Giri yang bersikap tegas terhadap Majapahit. Raja Girindrawardhana yang merebut Majapahit, namun Girindrawardhana sudah didahului dikalahkan oleh Prabu Udhata dan tewas pada tahun 1498 Masehi.
Prabu Udhata takut diserang oleh Sunan Giri yang saat itu dikenal sebagai penguasa Pesantren Giri, pimpinan Giri Kedhaton, yang memimpin pemerintahan para ulama. Apalagi bila bergabung dengan prajurut Demak untuk merebut kekuasaan pemerintahan yang menjadi hak Raden Patah selaku putra Prabu Brawijaya Kertabhumi. Prabu Udhata bersekongkol dengan Portugis di Malaka pada tahun 1512 Masehi. Dan Demak menyerang Majapahit pada tahun 1517 Masehi, dan jatuhlah Majapahit sehingga seluruh pusaka Majapahit jatuh ke tangan Raden Patah.

Senin, 17 Mei 2010

PERJUANGAN AWAL, PARA WALI DI JAWA (4)

Para anggota Walisanga adalah orang-orang yang terpilih dan mendapatkan sebagian karomah Nabi Muhammad SAW, yaitu barokah. Merekalah peletak dasar syiar agama Islam di Jawa, sejak datangnya Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1404 Masehi. Walisanga yang tersebar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat itu selalu mengkonsolidasikan diri dan mengkoordinasikan segala kegiatan dakwah Islamiyahnya. Sehingga pada hakekatnya Walisanga adalah sebuah organisasi para wali yang keanggotaannya mengalami perubahan dan penggantian, tetapi tetap berjumlah sembilan orang. Dalam pelaksanaan dakwahnya menghadapi masyarakat Jawa yang berlatar belakang masyarakat plularistik dan beragam budayanya, yaitu budaya Hindu, Budha, Kejawen, animisme, dan dinamisme, maka diperlukan taktik dan strategi serta metode dakwah Islamiyahnya. Akibatnya terjadi perbedaan sikap dan cara dakwah yang berakhir dengan terbaginya dua cara dalam berdakwah, yaitu cara moderat dan cara konservatif.
Golongan moderat menuduh golongan konservatif sebagai ekstrem, tidak tahu situasi dan kondisi, tidak pandai-pandai membawa diri, tidak mengerti hikmah kebijaksanaan, dan masih banyak cercaan lainnya. Mereka dipimpin oleh Sunan Kalijaga, dengan didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Mereka ini disebut sebagai Santri Abangan, yakni golongan yang masih mentolerir kepada adat-istiadat dan kepercayaan lama, tidak tergesa-gesa merubah adat-istiadat lama, tetapi dipengaruhi sedikit demi sedikit, diarahkan secara bijaksana sebagai media dakwah. Rakyat diambil hatinya agar simpati, senang, mengerti, dan kemudian mencintai.
Tujuan kelompok Santri Abangan adalah ingin meng-Islam-kan orang Jawa secepat mungkin, dengan jalan agak kompromi atau dengan mengikuti arus tetapi tidak hanyut. Golongan konservatif yang dipimpin oleh Sunan Giri, dan didukung oleh Sunan Ampel dan Sunan Drajat, menuduh golongan moderat sebagai tidak konsekwen dalam menjalankan perintah agama Islam, ingin memalsukan agama Allah, berkompromi dengan kaum batil, mencampur yang haq dengan yang batil, Islam palsu, dan sebagainya. Golongan Konservatif dijuluki sebagai Santri Putihan, yaitu dalam masalah ibadah tidak kenal kompromi dengan adat-istiadat dan kepercayaan lama. Ibadah harus dilaksanakan secara murni dan konsekwen. Ibadah harus sesuai dengan aturan yang tersebut di dalam Al Qur'an dan Sunnah Rasul. Sunan Giri adalah seorang yang dalam ilmu Taukhid dan ilmu Fikihnya. Beliau sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan hukum, takut kalau tidak sesuai dengan ajaran Nabi. Tujuan kelompok Santri Putihan adalah menghindari terjadinya penyelewengan aturan Agama Islam.
Namun demikian kedua aliran itu tetap bersatu padu menjaga Ukhuwah Islamiyah, menjaga persatuan umat. Hal tersebut ditunjukkan dalam bergotong royong membangun Masjid Demak, membantu Raden Pattah mendirikan Kerajaan Islam Demak, dan meruntuhkan Kerajaan Majapahit setelah keturunan Raja Majapahit tidak lagi memimpin Kerajaan Majapahit karena ditundukkan oleh Raja Girindrawardhana dari Kerajaan Kediri. Prabu Brawijaya Kertabhumi, ayah Raden Pattah tewas dalam memberikan kesempatan kepada Sunan Giri dan Sunan Ampel menyiarakan agama Islam di wilayah Majapahit.. Setelah Sunan Ampel wafat pimpinan Walisanga digantikan oleh Sunan Giri, dan Sunan Giri bersikap tegas terhadap Majapahit. Raja Girindrawardhana yang telah merebut Majapahit, namun Girindrawardhana sudah didahului dikalahkan oleh Prabu Udhata dan tewas pada tahun 1498 Masehi.
Tetpi Prabu Udhata takut diserang oleh Sunan Giri yang saat itu dikenal sebagai pengusaha. Pesantren Giri, pimpinan Giri Kedhaton, yang memimpin pemerintahan para ulama. Apalagi bila bergabung dengan prajurit Demak untuk merebut kekuasaan pemerintahan yang menjadi hak Raden Pattah selaku putra Brawijaya Kertabhumi. Prabu Udhata bersekongkol dengan Portugis di Malaka pada tahun 1512 Masehi. Dan Demak menyerang Majapahit pada tahun 1517 Masehi, dan jatuhlah Majapahit, sehingga seluruh pusaka Majapahit jatuh ke tangan Raden Patah.